Skip to content

Sains Penghantar Pendidikan Karakter

March 6, 2013

sumber gambar: blog.djarumbeasiswaplus.org

Bambang Nurokhim (2007) menegaskan membangun karakter dan watak bangsa melalui pendidikan mutlak diperlukan, bahkan tidak bisa ditunda, mulai dari lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat dengan meneladani para tokoh yang memang patut untuk dicontoh. Di lingkungan sekolah, guru, kepala sekolah dan tenaga pendukung kependidikan merupakan komunitas yang secara tidak langsung akan menjadi teladan bagi para siswa. Untuk itu karakter yang kuat harusnya lebih dahulu dimiliki oleh komunitas tersebut, terutama guru.

Pembelajaran sains dengan pendekatan ketrampilan proses, inquiri dan problem solving dalam beberapa hal dapat menanamkan sikap-sikap positip yang mengarah pada pembentukan karakter diri yang kuat. Pembelajaran sains yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh akan memberikan sumbangan berharga bagi siswa dalam mempersiapkan dirinya menghadapi kehidupan nyata di masyarakat. Unsur-unsur kedisiplinan, kecermatan, ketekunan, ketelitian, dan kejujuran misalnya dalam melakukan kegiatan observasi dan pengukuran secara bertahap akan membentuk karakter siswa.

 

Nilai-nilai yang dapat diperoleh dari hasil pembelajaran sains adalah :

 

  1. 1.    Obyektivitas (objectivity)
  2. 2.    Keakuratan (accuracy)
  3. 3.    Ketepatan (precision)
  4. 4.    Pencarian kebenaran (pursuit of truth)
  5. 5.    Pemecahan Masalah (problem solving)
  6. 6.    Penghargaan makna kemanusiaan (regard for human significance)
  7. 7.    Melindungi Kehdiupan manusia (protect human life: safety and risks)
  8. 8.    Kejujuran intelektual (intellectual honesty)

 

  1. 9.       Kejujuran akademik (academic honesty)
  2. 10.    Keteguhan hati (courage)
  3. 11.    Kerendahan hati (humility)
  4. 12.    Membuat keputusan (decision-making)
  5. 13.    Kesediaan menghargai pendapat (willingness to suspend judgment)
  6. 14.    Saintifik inquiri (scientific inquiry: being fair and just)
  7. 15.    Mempertanyakan semua hal (questioning of all things)
  8. 16.    Kebutuhan verifikasi (demand for verification)

 

  1. 17.  Menghormati logika (Respek respect for logic)
  2. 18.  Integritas (integrity)
  3. 19.  Rajin (diligence)
  4. 20.  Tekun (persistence)
  5. 21.  Rasa ingin tahu (curiosity)
  6. 22.  Terbuka (open-mindedness)
  7. 23.  Kritis (critical evaluation of alternatives)
  8. 24.  imagination

 

 

 

Penanaman nilai-nilai sains dapat dilaksanakan manakala guru dapat menyusun perencanaan pembelajaran dengan baik, yaitu dengan penetapan tujuan beranah kognitif, afektif dan psikomotor, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran  secara utuh. Ini adalah hal paling sulit dilaksanakan karena berbagai alasan seperti terbatasnya waktu, beban tanggung jawab guru yang cukup banyak (beban mengajar 24 jam pelajaran per minggu), belum ada (mantapnya) team teaching yang dapat membagi tugas sehingga secara intens dapat mengikuti perkembangan siswa, belum pahamnya guru memnyusun kegiatan belajar yang bermuatan sikap-sikap ilmiah, belum pahamnya guru tentang pengukuran hasil belajar sains yang berbentuk sikap, dan sebagainya.

Pendidikan sains memiliki peran penting dalam menjaga dan meningkatkan kualitas hidup manusia.

Science is critical to sustaining, maintaining and improving the quality of life on earth for the future and for enhancing democratic societies and the global economy.

 

The goal of science education is not only to produce scientists, but also to prepare well rounded, clear thinking, scientifically literate citizens. Helping young people acquire the knowledge, skills and values they will need as productive adults in an increasingly technological society is the major purpose for science instruction.

Methods of teaching Character Education in Science:

 

  1. Menanamkan (Inculcate)
  2. Mengembangkan (Develop)
  3. Mengklarifikasi (Clarify )

 

Ketiga hal tersebut dapat terlaksana dalam pembelajaran sains melalui tiga tahapan. Pertama rancangan pembelajaran, yaitu pada bagian tujuan pembelajaran yang secara tegas harus menunjukkan jenis sikap apa yang akan dibelajarkan pada siswa, kemudian bagaimana kondisi dan langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut, dan teknik (jenis) penilaian apa yang sesuai untuk mengevaluasi tujuan tersebut. Kedua, dalam pelaksanaan pembelajaran secara intensif guru mengamati perilaku (sikap) siswa selama proses belajar, dan memberikan umpan balik bagaimana seharusnya siswa bersikap dalam menghadapi masalah yang disodorkan dalam pembelajaran. Ketiga, guru melakukan penilaian terhadap sikap-sikap yang ditunjukkan siswa atau dapat juga dari penilaian siswa sendiri dan teman. Hasil penilaian ini seyogyanya didiskusikan untuk umpan balik bagi siswa.

Metode pembelajaran yang sesuai untuk pembentukan sikap dalam pembelajaran sains, selain ketrampilan proses, inquiri, dan problem solving, secara konstruktivistik juga dapat dilaksanakan melalui metode lain misal roll playing.

Sumber: trimanjuniarso.files.wordpress.com

From → Artikel Sosial

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: