Skip to content

Kenapa Tidak Ayah Saja yang Meninggal?

February 19, 2013

Ia masih seorang bocah yang duduk di bangku kelas 3 SD. Suatu kali ustadz di kelasnya memotivasi para siswa untuk menjaga shalat jamaah subuh. Bagi si anak, shalat subuh sulit dilakukan secara berjamaah di masjid. Namun kali ini sang bocah bertekad menjalankan shalat subuh berjamaah. Lalu dengan cara bagaimana anak ini memulainya?

Dibangunkan ayah? Ibu?Dengan alarm?bukan!

Sang anak nekat tak tidur semalaman lantaran takut bangun kesiangan. Semalaman anak begadang, hingga tatkala adzan subuh berkumandang, ia pun ingin segera keluar menuju masjid.

Tapi, tatkala ia membuka pintu rumah, suasana sangat gelap, pekat, sunyi, senyap. Membuat nyalinya ciut. Taukah Anda apa yang ia lakukan kemudian? Tatkala itu, sang bocah mendengar langkah kaki kecil dan pelan, dengan diiringi suara tongkat menghentak tanah. Ya, ada kakek-kakek berjalan dengan tongkatnya. Sang bocah yakin, kakek itu sedang berjalan menuju masjid.

Maka ia mengikuti di belakangnya, tanpa sepengetahuan sang kakek. Begitupun cara ia pulang dari masjid.

Bocah itu menjadikan itu sebagai rutinitas keseharian; begadang malam lalu shalat subuh mengikuti kakek-kakek. Dan ia tidur setelah subuh hingga menjelang sekolah. Orang tuanya tidak ada yang tahu, selain hanya melihat sang bocah lebih banyak tidur di siang hari daripada bermain. Dan ini dilakukannya agar bisa begadang malam.

Hingga suatu kali.

Terdengar kabar olehnya, kakek yang bisa diikuti itu meninggal. Sontak, si bocah mennangis sesenggukan. Sang ayah heran dan bertanya, “Mengapa kamu menangis, nak? Ia bukan kakekmu, bukan siapa-siapa kamu!.

Saat si ayah mengorek sebabnya, sang bocah sembari menangis spontan berkata, “Kenapa bukan ayah saja yang meninggal?”

“A’udzu billah, kenapa kamu berbicara seperti itu, nak?” kata sang ayah heran.

Si bocah berkata, “Mendingan ayah saja yang meninggal, karena ayah tidak pernah membangunkan aku sholat subuh, tidak pernah mengajakku ke masjid. Sementara kakek itu, setiap pagi saya bisa berjalan dibelakangnya untuk shalat jamaah subuh.”

ALLAHU AKBAR! Menjadi kelu lidah sang ayah, hingga tak kuat menahan tangisnya.

Kata-kata anak tersebut mampu merubah sikap dan pandangan sang ayah, hingga membuat sang ayah sadar sebagai pendidik bagi anaknya, dan lebih dari itu sebagai hamba dari Pencipta-nya yang semestinya taat menjalankan perintah-Nya. Sang  ayah rajin shalat berjamaah karena dakwah dari anaknya.

(Sumber: Mamlakah al-Qashash al Waaqi’iyyah disebutkan secara lebih singkat dalam “Ladzaatul ‘ibaadah, Syaikh Isham binAbdul Muhsin al-Humaidan)

 

From → Kisah Inspirasi

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: